Guru, Sebuah Pengabdian Mulia

Terpujilah wahai engkau ibu bapak guru
Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku
Semua baktimu akan kuukir di dalam hatiku
Sebagai prasasti terima kasihku
Tuk pengabdianmu

Engkau sabagai pelita dalam kegelapan
Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan
Engkau patriot pahlawan bangsa
Tanpa tanda jasa

Masih ingatkah dengan sepenggal lagu ini? Sepenggal lagu yang sering kita nyanyikan semasa kecil dulu. Sebuah lagu haru tentang sesosok pahlawan yang jasanya hidup sepanjang waktu. Guru.

Ya, guru. Sebuah profesi yang sangat mulia yang kita anugerahi gelar Pahlawan Tanpa Tanda Jasa. Ya, mereka hidup untuk memberi dan tidak meminta apapun sebagai ganti dari apa yang telah diberikannya kepada kita, kepada anak didiknya, mereka hanya ingin kita menerima, mengingat dan memanfaatkan apa yang ia berikan kepada kita agar kita menjadi pribadi-pribadi yang berguna bagi bangsa dan negara. Dan melalui sepenggal lagu tadi kita diingatkan, tentang sosok mereka, jasa mereka dan apa arti mereka bagi kita. Lagu tersebut didedikasikan untuk semua guru yang membimbing dan mengajari kita hingga kita bisa menjadi seperti sekarang ini, dapat membaca, menulis, berhitung dan menjadi sosok-sosok yang berguna bagi siapa pun. Betapa mulianya.. mereka dengan sabar mengajari kita mulai dari nol, dari yang tidak tahu menjadi tahu, dari yang tahu menjadi paham. Terima kasih guru, untuk semua itu.

Namun, entah mengapa di negara kita ini profesi guru kurang begitu dihargai, baik itu oleh pemerintah maupun masyarakatnya sendiri. Kesejahteraan guru bisa dikatakan (sebagian besarnya) berada di kelas ekonomi menengah dan bahkan ke bawah, kecuali guru di sekolah-sekolah ‘istimewa’ yang biaya pendidikan dalam setahunnya bisa berpuluh-puluh juta. Dan saya melihat refleksinya dari Paman saya, seorang guru di sebuah SMA Negeri di Jawa Barat yang harus pontang-panting mencari nafkah untuk keluarganya. Dan semoga dengan niatnya yang tulus menjalani pekerjaan untuk mencerahkan kehidupan bangsa, beliau selalu diberi jalan oleh Tuhan atas semua masalah yang dihadapinya.

Ketika kita berbicara tentang sosok guru, maka hal ini tidak akan terlepas dari topik pendidikan di Indonesia itu sendiri. Ya, bisa dibilang pendidikan Indonesia ini kurang mendukung generasi yang akan datang untuk menjadi generasi Indonesia yang lebih kreatif dan berkembang di masa depan. Misalnya saja, ketika kita bertanya pada seorang anak pra-sekolah apa cita-citanya, dengan bersemangat dia akan menjawab dokter, guru, tentara, pilot dan profesi-profesi lain yang terlihat keren di mata mereka. Jarang kita temui seorang anak yang masih kecil bercita-cita menjadi arkeolog, akuntan atau malah binaragawan. Berbeda dari itu, sebagian besar anak yang beranjak dewasa kemudian melupakan cita-cita ‘keren’ masa kecilnya karena terbawa pengaruh lingkungan tempat ia tumbuh dan berkembang, lingkungan sekolah salah satunya. Pada fase ini, mereka sudah mulai memikirkan realitas dan prospek dari cita-citanya tersebut, apakah hal itu akan dapat membuat ia hidup, bertahan dan menjadi orang yang sukses di kemudian hari. Semua orang tentu ingin sukses dan menikmati kesuksesan, dan itulah faktor terbesar yang membuat para orang tua berlomba-lomba memaksimalkan pendidikan anak-anaknya untuk masa depan yang lebih baik.

Ketika cara pandang kita akan masa depan yang dibentuk dari lingkungan yang sedemikian ini, maka akan terpatri dalam benak kita bahwa belajar untuk bisa bekerja, lalu kita bekerja untuk mencari uang sebanyak-banyaknya, dan dengan banyaknya uang yang kita miliki, kita akan sukses. Menurut pendapat saya, ini teori yang keliru. Ketika manusia hanya terfokus untuk megejar kesuksesan yang dinilai dari uang (materi), maka mereka akan berusaha mencapainya dengan cara apapun, bagaimanapun, hingga melupakan mana yang baik dan mana yang buruk. Dan ketika seseorang mempunyai tujuan hidup untuk mencari uang, maka ia memilih bidang pekerjaan dengan imbalan tertinggi yang ia bisa raih, baik pekerjaan itu ia sukai atau pun tidak. Tidak heran jika korupsi merajalela di negara ini. Dengan memegang teguh persepsi yang salah tentang makna kesuksesan mereka bekerja hanya untuk perutnya sendiri, mereka berpikir bahwa hasil akhirlah yang terpenting, karena kuantitas hasil akhir itu lah yang akan menunjukkan kesuksesan kita. Tahukah kalian, jika kalian juga masih berpikiran seperti maka kalian harus menerima kenyataan bahwa itu SALAH!!

Seseorang mengajarkan kepada saya bahwa kesuksesan itu sesungguhnya bukan dilihat dari kuantitas hasil akhir yang kita peroleh, tapi bagaimana kita menjalani dan melewati proses-proses dalam setiap perjalanan hidup kita. Ketika kita dapat menikmati perjalanan karir dan hidup kita dengan baik dan penuh syukur hingga kita mendapatkan ketenangan hati, maka kita telah mendapatkan kesuksesan sejati, bukan hanya kesuksesan semu yang telah saya sebutkan sebelumnya, makna sukses yang hanya menjadikan kekayaan, pangkat dan ketenaran sebagai tolak ukurnya. Ketenaran, pangkat dan kekayaan itu hanyalah bonus dari kesuksesan sejati yang kita capai. Orang sukses itu pasti bahagia. Jika tidak bahagia, maka bukan sukses namanya.

Hal yang demikian itulah yang diterapkan pada sistem pendidikan di Indonesia. Kesuksesan seorang siswa hanya dilihat dari pencapaian akhir siswa tersebut melalui ujian dan tes yang diadakan setiap akhir masa tertentu, bukan dari proses yang dilalui oleh siswa itu sendiri dari hari ke hari sewaktu menjalani pendidikannya. Dapat kita lihat beberapa waktu kebelakang bagaimana Ujian Akhir menjadi satu-satunya syarat kelulusan siswa-siswa di Indonesia dari tingkat pendidikan tertentu. Dan dengan sistem tersebut siswa-pun akan merasa terbebani dan akan memanfaatkan berbagai cara untuk bisa lulus Ujian Akhir tersebut. Menurut saya, hal inilah yang kemudian menjadi bibit-bibit korupsi. Seharusnya keputusan lulus atau tidaknya seorang siswa itu ditentukan oleh guru mereka yang mengetahui dan melihat detail-detail perkembangan siswa-siswa didiknya secara langsung dari waktu ke waktu.

Sekolah itu sendiri pada hakikatnya merupakan sarana belajar siswa-siswanya bukan hanya dalam bidang akademik namun juga dalam bidang non akademik agar siswa-siswa dapat memahami kehidupan bermasyarakat yang sesungguhnya. Disini, guru seharusnya diberi kebebasan untuk menentukan metode pengajarannya masing-masing, karena yang mengetahui bagaimana kemampuan dan kondisi siswa-siswa di suatu sekolah itu bukanlah pemerintah tetapi guru itu sendiri. Menurut saya disini sebaiknya tugas pemerintah hanya memberikan garis besar pembelajaran saja dan bukan sistem pengajarannya, dengan demikian guru-guru pun dapat lebih leluasa mengembangkan kreativitas dalam melaksanakan tugasnya.

Yang perlu menjadi catatan disini adalah bahwa seharusnya minat siswa lah yang ditampung dan dikembangkan dalam proses kegiatan belajar-mengajar di sekolah, bukan malah guru-guru dan sistem pembelajaran yang memaksakan kehendak dengan mencekoki siswa-siswa dengan puluhan mata pelajaran yang harus mereka kuasai dalam waktu singkat, yang menjadikan siswa-siswa hanya akan mengerti dan memahami sedikit hal tentang mata pelajarannya tersebut. Banyaknya hal yang harus dipelajari siswa dalam satu waktu ini bisa menjadi pemicu stress yang mengakibatkan siswa melakukan tindakan-tindakan menyimpang seperti tawuran.

Hal terpenting dalam pengembangan siswa di sekolah menurut saya adalah bagaimana mereka bisa nyaman dengan kegiatan belajar-mengajarnya, yang artinya siswa tersebut dapat menikmati proses pembelajaran yang diikutinya. Seharusnya setiap siswa difokuskan hanya dalam suatu atau beberapa bidang yang ingin ia pelajari dan ia sukai hingga membuat siswa tersebut dapat menikmati proses belajarnya di sekolah dan menjadikan siswa-siswa lebih yang kritis, kreatif, aktif dan terampil sesuai bidang minat dan bakatnya.

Disinilah tugas guru sesungguhnya, tidak hanya mendidik anak murid tetapi juga menjembatani minat dan bakat siswa-siswanya dengan ilmu-ilmu yang seharusnya mereka dapatkan. Dengan begitu guru dapat mengarahkan siswa siswanya agar siswa mempelajari sesuatu bukan atas dasar paksaan tapi atas keinginan dan kemauan siswa itu sendiri. Pemerintah pun sebaiknya tidak lepas tangan begitu saja terhadap hal ini, mereka juga harus memperhatikan para guru agar mampu melaksanakan tugasnya dengan baik untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan negara Indonesia.  Pemerintah seharusnya lebih memperhatikan kesejahteraan guru-guru dan fasilitas sekolah di setiap daerah di negara ini, tanpa kecuali.

Guru, sebuah pengabdian mulia untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Sosok-sosok yang tak kenal lelah membantu memperjuangkan cita-cita anak didiknya. Sosok-sosok yang mengarahkan kita pada jalan-jalan yang lebih terang menuju masa depan kita.

Tanpa seorang guru tidak akan ada yang namanya presiden, tidak akan ada yang disebut professor, tidak akan ada yang berhasil menduduki jabatan menteri. Bagaimanapun juga guru adalah pekerjaan yang sangat mulia dan oleh karena itu sudah sepantasnya kita tidak melupakan jasa-jasa mereka. Dalam hidup ini ada yang namanya mantan istri, mantan pacar, mantan presiden, mantan menteri dan lain sebagainya tetapi tidak akan pernah ada yang namanya mantan guru. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya, kemudian ingatlah sosok-sosok itu, pahlawan tanpa medali yang telah menyerahkan sebagian besar hidupnya untuk kemajuan bangsa. Ingatlah tanpa mereka kita tidak akan bisa berdiri di sini dan menjadi seperti sekarang ini. Ingatlah.. pahlawa tanpa tanda jasa.

Terima kasih, Guruku, Pahlawanku.

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s